15 April 2016

Posted by Virtech Indonesia | File under : ,

Kebudayaan Mentalitas dan Kebudayaan

Apakah Gotong Royong itu Sebenarnya?

Apakah gotong-royong itu?

Konsep gotong-royong merupakan suatu konsep yang erat sangkut-pautnya dengan kehidupan rakyat indonesia. Istilah gotong-royong pertama kali tampak dalam bentuk tulisan dalam karangan-karangan tentang hukum adat dan juga dalam karangan-karangan tentang aspek-aspek sosial dari pertanian (terutama di Jawa Timur) oleh para ahli pertanian belanda lulusan Wageningen.

Gotong-royong Dalam Bercocok Tanam


     Dalam kehidupan masyarakat di Jawa, gotong-royong merupakan suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa sibuk dalam lingkaran aktivitas produksi bercocok tanam di sawah.
     Untuk keperluan itu, dengan adat sopan-santun yang sudah tetap, seorang petani meminta beberapa orang lain desanya, misal dalam mempersiapkan sawah untuk masa penanaman yang baru (memperbaiki saluran air dan sebagainya). Kompensasi lain tidak ada, tetapi yang minta bantuan itu harus mengembalikan jasa itu dengan membantu semua petani yang diundangnya tadi, tiap saat apabila mereka memerlukan bantuannya.        Sistem gotong-royong sebagai suatu sistem pengerahan tenaga seperti itu, amat cocok dan flexibel untuk teknik bercocok tanam yang bersifat usaha kecil dan terbatas, terutama waktu unsur uang belum masuk ekonomi pedesaan.
     Dengan masuknya uang menjadi unsur penting dalam kehidupan ekonomi pedesaan, yang di beberapa daerah di Jawa sudah mulai dalam abad ke-19 yang lalu, seorang ahli pertanian Belanda yang pernah bekerja di daerah Blitar Jawa Timur bernama G.H van der Kolff menulis dalam tahun 1920, bahwa di daerah pedesaan di Blitar itu banyak petani mulai meninggalkan adat gotong-royong dalam produksi pertanian, dan menganggap lebih praktis untuk menyewa saja buruh tani yang diberi upah berupa uang.

     Aktivitas gotong-royong di beberapa desa di Jawa Tengah bagian Selatan dalam tahun 1958 dan 1959. Desa-desa daerah itu, gotong-royong disebut sambatan. Istilah sambatan itu berasal dari kata sambat yang artinya “minta bantuan”. Daerah Karanganyar-Kebumen, isitilah gotong-royong baru saja dikenal oleh para petani disana ketika 3-4 tahun sebelumnya istilah itu diintroduksi di daerah itu selama kampanye pemilu berlangsung.

Aktivitas Tolong-menolong lain dari desa


  1. > Aktivitas tolong-menolong antara tetangga yang tinggal berdekatan, untuk pekerjaan kecil di sekitar rumah dan pekarangan. Misalnya: menggali sumur, mengganti dinding rumah dan sebagainya. Di daerah Karanganyar disebut dengan istilah guyuban.
  2. > Aktivitas tolong-menolong antara kaum kerabat utuk menyelenggarakan pesta sunat, perkawinan atau upacara-upacara adat sekitar titik peralihan pada lingkaran hidup individu. Adat tolong-menolong antara kaum kerabat seperti itu di daerah Karanganya disebut njurung.
  3. > Aktivitas spontan tanpa permintaan dan tanpa pamrih untuk membantu secara spontan pada waktu seorang penduduk desa mengalami kematian atau bencana. Adat untuk membantu ini di Karanganyar di sebut tetulung layat.

Ada suatu perbedaan dalam ketiga aktivitas tersebut, sambatan dilakukan dalam suasana yang tidak spontan, guyuban suasana spontan dan persaudaraan antara tetangga dekat sudah mulai tampak. Suasana spontan tanpa pamrih yang paling besar tampak dalam peristiwa telulung layat, pada waktu orang membantu orang lain pada peristiwa adanya kematian dan bencana.

Kerja Bakti

Dalam zaman penjajahan, sistem kerja bakti itu diperkejakan untuk mengerahkan tenaga bagi proyek-proyek pemerintah kolonial. Di daerah Karanganyar disebut kerigan, sedangkan di tempat-tempat lain di Jawa, ada sebutan-sebutan seperti gugur gunung, rodi, kompenian dan lain-lain.

Penutup


Konsep gotong-royong, tolong-menolong yang awalnya hanya berwujud sebagai suatu sistem pengerahan tenaga tambahan pada masa-masa dalam proses bercocok tanam, sebagai sistem tolong-menolong antara tetangga dan kerabat, berpesta, peristiwa-peristiwa kematian dan bencana dijadikan satu dengan kerja rodi merupakan sejarah dari tolong-menolong. Di mulai pada waktu Panitia Persiapan Kemerdekaan dalam masa Jepang, mengangkat konsep itu menjadi suatu unsur yang amat penting dalam rangkaian prinsip-prinsip dasar dari negara Indonesia.

Apakah Nilai gotong-royong itu untuk penghapusan desa

Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia nilai itu mengandung empat konsep:
  1. > Manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini tetapi dikelilingi oleh komunitasnya, masyarakat, dan alam sekitar.
  2. > Dalam segala aspek kehidupan manusia pada hakekatnya tergantung kepada sesamanya.
  3. > Manusia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama-rata sama-rasa
  4. > Selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dan bersama dengan sesamanya dalam komunitas terdorong oleh jiwa sama-tinggi sama-rendah.
“Apakah nilai gotong-royong itu menghambat pembangunan?”
Kalau apa yang dimaksud dengan gotong-royong adalah aktivitas tolong-menolong dan sistem tukar-menukar tenaga antar petani dalam produksi bercocok tanam, aktivitas tolong-menolong antar tetangga, atau antar kaum kerabat dalam masyarakat desa kecil, maka sudah tentu kalau gotong-royong tak ada banyak sangkut pautnya dengan pembangunan dan karena itu tidak menghambat pembangunan.

Apakah ada nilai tradisional yang bisa mendorong pembagian Mendorong Pembangunan?


Ada beberapa nilai tradisional yang memang tidak cocok dengan jiwa pembangunan. Misalnya, nilai yang terlampau banyak berorientasi vertikal ke arah tokoh pembesar, atasan dan senior. Nilai itu mematikan beberapa sifat mentalitas tertentu, seperti kemauan untuk berusaha atas kemampuan sendiri, rasa disiplin murni. Sifat-sifat mental yang tak berdasarkan atas sistem nilai budaya yang tradisional, tetapi yang timbul sebagai akibat kekacauan zaman revolusi dan port-revolusi ialah: hilangnya rasa kepekaan terhadap mutu dan timbulnya “mentalitas menerabas”. Sifat-sifat mental yang kita perlukan untuk memertinggi kapasitas membangun kita ialah: nilai yang berorientasi terhadap achievement dari karya, nilai yang mementingkan explorasi,sifat hemat dan bersaing.


Apakah Kebudayaan Indonesia


Rumus yang melambangkan aneka warna-warni bangsa kita, yaitu bhinneka tunggal ika, yang artinya bhinna = bentuk partisipasi dari akar kata Sansakerta bhid = pecah; ika = itu; tunggal = satu; jadi bhinneka tunggal ika itu “satu”. Masalah kebudayaan nasional meyangkut masalah kepribadian nasional dan masalah kepribadian nasional itu tidak hanya langsung mengenai identitas kita sebagai bangsa, tetapi juga menyangkut soal tujuan kita bersama untuk hidup sebagai bangsa, menyangkut soal tujuan kita bersama untuk dengan susah payah mengeluarkan tenaga banyak untuk membangun, dan menyangkut soal motivasi kita untuk membangun.

Pengembangan Kebudayaan Nasional Indonesia

  1. > Program kampanye dan penerangan besar-besaran agar rakyat Indonesia mulai menghargai barang-barang hasil produksi industri nasionalnya dan berhenti untuk lebih menyukai barang-barang Made in China, Made in Japan, atau Made in USA.
  2. > Usaha lebih serius untuk mengembangkan Hukum Nasional.

Sifat khas suatu kebudayaan bisa dimanifestasikan dalam beberapa unsur yang terbatas dalam suatu kebudayaan, yaitu dalam bahasanya, dalam keseniannya, dan dalam upacara-upacaranya. Yang perlu di perhatikan dalam mengembangkan Kebudayaan Nasional adalah agar suatu unsur Kebudayaan Nasional itu bisa memberi identitas kepada warga negaranya, maka ia harus bisa menimbulkan rasa bangga kepada mereka, dan sebaliknya.

Bidang-bidang Kesenian Manakah memberi Isi Kepada Kebudayaan Nasional?


Kebudayaan Nasional Indonesia itu, harus bisa memberi rasa kepribadian kepada bangsa Indonesia sebagai suatu keseluruhan dan sebagai suatu kesatuan nasional.

Unsur-unsur kebdayaan yang universal


  1. > Sistem teknologi
  2. > Sistem mata pencaharian hidup
  3. > Sistem kemasyarakatan
  4. > Bahasa
  5. > Sistem pengetahuan
  6. > Religi
  7. > Kesenian


Satu unsur kebudayaan yang dapat menonjolkan sifat khas dan mutu, dan dengan demikian amat cocok sebagai unsur paling utama dari Kebudayaan Nasional Indonesia yaitu kesenian. Maka masalah mengembangkan Kebudayaan Nasional Indonesia pada hakekatnya memang terbatas kepada masalah mengembangkan kesenian Nasional Indonesia.

Disusun oleh: 
Fredika Budi Romadhona
1IA08
52415778

0 comments:

Post a Comment