TUGAS SOFT SKILL
ILMU SOSIAL DASAR
"IPTEK DAN KEMISKINAN"
Disusun Oleh:
Fredika Budi Romadhona (52415778)
1IA08
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar
Dosen : Ibu Sri Hermawati
DAFTAR ISI
Bab I: Pendahuluan1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan dan Manfaat
Bab II: Isi
2.1 Definisi Dari IPTEK
2.2 Definisi Dari Kemiskinan
2.3 IPTEK dan Kemiskinan yang Berjalan Beriringan
2.4 Peranan IPTEK dalam Menekan Angka Kemiskinan
Bab III: Penutup
3.1 Kesimpulan
Refrensi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Di era Globalisasi ini, manusia tidak dapat lepas dari kecanggihan Teknologi yang semakin lama semakin berkembang pesat. Mulai dari hal yang kecil hingga yang dapat menunjang kehidupan seorang manusia. IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) menjadi bahan pembelajaran yang sangat luas dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. IPTEK memiliki banyak manfaat yang positif, walaupun tidak dipungkiri IPTEK / Teknologi juga memiliki dampak negatif yang juga tidak sedikit. Tetapi yang akan saya bahas adalah bagaimana sebuah IPTEK / Teknologi dapat menekan angka kemiskinan, dan bagaimana caranya sehingga IPTEK dapat begitu bermanfaat bagi hampir seluruh umat manusia.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam bahasan kali ini, saya akan menjelaskan beberapa poin sesuai dengan latar belakang diatas, yaitu:
- Definisi dari IPTEK
- Definisi dari Kemiskinan
- IPTEK dan Kemiskinan yang Berjalan Beriringan
- Peranan IPTEK dalam Menekan Angka Kemiskinan
1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan tulisan ini adalah bagaimana peranan dari bidang IPTEK yang dapat menekan angka Kemiskinan di dunia dan apakah IPTEK dapat merubah derajat kehidupan seseorang. Manfaat yang akan kita dapat tentunya kita bisa lebih menghargai sebuah kerja keras yang orang lakukan untuk melakukan perubahan terhadap dirinya ataupun untuk orang banyak terutama di bidang IPTEK dan perekonomian per kapita.
BAB II
ISI
2.1. Definisi dari IPTEK
IPTEK merupakan kependekan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang memiliki arti suatu sumber informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan seseorang pada bidang teknologi. Lalu, apakah pengertian dari Ilmu, Pengetahuan, serta Teknologi itu sendiri? Ilmu memiliki pengertian mengenai pemahaman suatu pengetahuan yang memiliki fungsi untuk mencari, menyelidiki, dan menyelesaikan suatu hipotesis. Dalam prakteknya, Ilmu juga merupakan suatu pengetahuan yang telah teruji kebenarannya sehingga dapat dijadikan acuan yang akurat dan konkret. Pengetahuan merupakan suatu yang diketahui atau disadari oleh seseorang yang diperoleh dari pengalaman pribadi, tetapi pengetahuan bukanlah sebuah Ilmu karena Pengetahuan belum teruji kebenarannya dan tidak dapat dijadikan sebagai acuan yang akurat dan konkret. jadi, Pengetahuan itu sendiri datang dari pengalaman yang merupakan sesuatu yang belum pernah seseorang lihat sebelumnya. Teknologi diambil dari bahasa yunani yaitu tekne yang berarti pekerjaan dan logos yang berarti ilmu mengenai peralatan, prosedur, dan metode yang dipakai dalam berbagai macam cabang industri. Secara garis besar, Teknologi dapat diartikan sebagai suatu penemuan/pekerjaan melalui proses metode ilmiah untuk mencapai suatu tujuan yang maksimal.
Seperti yang dijelaskan diatas, IPTEK merupakan suatu sumber informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan seseorang pada bidang teknologi. Tetapi, para Ahli dibawah ini memiliki makna yang berbeda mengenai apa itu Teknologi, diantaranya:
I. Jaques Ellul, mengungkapkan bahwa teknologi itu merupakan keseluruhan metode yang mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia.
II. Mardikanto, mengemukakan teknologi itu suatu perilaku produk, informasi, dan praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan diterapkan oleh sebagian masyarakat dalam suatu lokasi tertentu dalam rangka mendorong terjadinya perubahan individu dan atau seluruh masyarakat yang bersangkutan.
III. Prayitno, menyebutkan teknologi sebagai perangkat ide, metode, teknik dari benda material yang dipakai dalam waktu dan tempat tertentu untuk memenuhi kebutuhan manusia.
IV. Iskandar Alisyahbana, mengatakan teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indra, serta otak manusia.
2.2. Definisi dari KemiskinanSeperti yang dijelaskan diatas, IPTEK merupakan suatu sumber informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan seseorang pada bidang teknologi. Tetapi, para Ahli dibawah ini memiliki makna yang berbeda mengenai apa itu Teknologi, diantaranya:
I. Jaques Ellul, mengungkapkan bahwa teknologi itu merupakan keseluruhan metode yang mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia.
II. Mardikanto, mengemukakan teknologi itu suatu perilaku produk, informasi, dan praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan diterapkan oleh sebagian masyarakat dalam suatu lokasi tertentu dalam rangka mendorong terjadinya perubahan individu dan atau seluruh masyarakat yang bersangkutan.
III. Prayitno, menyebutkan teknologi sebagai perangkat ide, metode, teknik dari benda material yang dipakai dalam waktu dan tempat tertentu untuk memenuhi kebutuhan manusia.
IV. Iskandar Alisyahbana, mengatakan teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indra, serta otak manusia.
Singkatnya, Kemiskinan dapat diartikan sebagai sekelompok orang atau individu yang memiliki kekurangan sumber daya yang membuat mereka kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Tetapi, masyarakat luas mengartikan Kemiskinan itu dengan suatu yang berbeda yaitu, merupakan seseorang yang memiliki kekurangan pendapatan sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup yang pokok sehari-hari seperti makanan, dan lain- lain. Dalam konteks ini, kebanyakan masyarakat menafsirkannya sebagai orang dengan masalah finansial/keuangan.
Menurut BPS (2008), kemiskinan dapat dibagi menjadi 4 kelompok terminologi, diantaranya
I. Kemiskinan Absolut, yaitu ketidakmampuan seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan pokok minimumnya seperti sandang, pangan, kesehatan, perumahan dan pendidikan,
II. Kemiskinan Relatif, yaitu suatu kemiskinan yang terpengaruh oleh kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga terjadi ketimpangan distribusi pendapatan,
III. Kemiskinan Kultural, diakibatkan oleh faktor adat dan budaya suatu daerah yang membelenggu masyarakatnya sehingga tetap melekat dengan indikator kemiskinan. Singkatnya, pada poin ini masyarakat yang miskin telah menjadi terbiasa, membudaya sehingga mereka tidak mempedulikan tentang usaha peningkatan kesejahteraan.
IV. Kemiskinan Struktural, menurut Suyanto dalam BPS (2008:7-8) menggambarkan bahwa kemiskinan berasal dari faktor-faktor eksternal masyarakat tersebut seperti kekuasaan pemerintah, kebijakan sosial yang tidak menguntungkan masyarakat, serta pembangunan yang dinilai tidak adil sehingga mereka tidak dapat berperan sebagai subyek pembangunan.
Menurut BPS (2008), kemiskinan dapat dibagi menjadi 4 kelompok terminologi, diantaranya
I. Kemiskinan Absolut, yaitu ketidakmampuan seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan pokok minimumnya seperti sandang, pangan, kesehatan, perumahan dan pendidikan,
II. Kemiskinan Relatif, yaitu suatu kemiskinan yang terpengaruh oleh kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga terjadi ketimpangan distribusi pendapatan,
III. Kemiskinan Kultural, diakibatkan oleh faktor adat dan budaya suatu daerah yang membelenggu masyarakatnya sehingga tetap melekat dengan indikator kemiskinan. Singkatnya, pada poin ini masyarakat yang miskin telah menjadi terbiasa, membudaya sehingga mereka tidak mempedulikan tentang usaha peningkatan kesejahteraan.
IV. Kemiskinan Struktural, menurut Suyanto dalam BPS (2008:7-8) menggambarkan bahwa kemiskinan berasal dari faktor-faktor eksternal masyarakat tersebut seperti kekuasaan pemerintah, kebijakan sosial yang tidak menguntungkan masyarakat, serta pembangunan yang dinilai tidak adil sehingga mereka tidak dapat berperan sebagai subyek pembangunan.
2.3. IPTEK dan Kemiskinan yang Berjalan Beriringan
Seperti yang kita ketahui, perkembangan teknologi yang maju tidak ditunjang oleh kesejahteraan penduduk diseluruh dunia. Ya, kita masih banyak melihat penduduk-penduduk yang berada di garis kemiskinan. Seseorang atau sekelompok orang dapat digolongkan sebagai masyarakat yang miskin sekali jika sekelompok orang tersebut memiliki pendapatan kurang dari nilai tukar beras senilai 260 kg/kapita/tahun, tidak dapat memenuhi kebutuhan kalori 2100 kkal, dan menurut Bank Dunia, sekelompok orang dapat dikatakan miskin jika memiliki pendapatan kurang dari Rp 600.000 perbulan.
Dalam perkembangannya, bidang IPTEK sebenarnya sudah membuka kesempatan bagi para masyarakat berekonomi rendah untuk merubah kesejahteraannya dan memperbaiki kesejahteraannya, namun itu semua dianggap tidak cukup mengingat tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Berdasarkan data BPS tahun 2008, ada kurang lebih 35 juta masyarakat Indonesia yang terbelenggu oleh kemiskinan. Hal ini begitu kontras dengan kehidupan masyarakat perkotaan yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan primernya. Banyak sekali sebenarnya usaha yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan dalam bidang IPTEK, namun nampaknya kemiskinan kultural sudah tertanam sangat dalam sehingga IPTEK dan Kemiskinan akan terus Berjalan Beriringan hingga begitu kontras.
Dalam perkembangannya, bidang IPTEK sebenarnya sudah membuka kesempatan bagi para masyarakat berekonomi rendah untuk merubah kesejahteraannya dan memperbaiki kesejahteraannya, namun itu semua dianggap tidak cukup mengingat tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Berdasarkan data BPS tahun 2008, ada kurang lebih 35 juta masyarakat Indonesia yang terbelenggu oleh kemiskinan. Hal ini begitu kontras dengan kehidupan masyarakat perkotaan yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan primernya. Banyak sekali sebenarnya usaha yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan dalam bidang IPTEK, namun nampaknya kemiskinan kultural sudah tertanam sangat dalam sehingga IPTEK dan Kemiskinan akan terus Berjalan Beriringan hingga begitu kontras.
Sejak 5 tahun belakangan ini, kemajuan Teknologi sudah begitu pesat sehingga sangat sulit untuk ditebak arah perkembangannya. Bidang IPTEK memiliki andil yang sangat besar dalam gerakan perubahan pemberantasan kemiskinan. Tetapi kita tahu, bahwa IPTEK memiliki dampak yang sangat luas mulai dari dampak yang positif hingga yang negatif. Tetapi di balik semua itu, IPTEK benar-benar memiliki andil yang sangat besar terutama di Indonesia. Di Indonesia, Pemanfaatan IPTEK sangat berpengaruh merubah taraf hidup Masyarakat, contoh pencetus perubahan bidang Ekonomi menggunakan IPTEK adalah pemuda yang bernama Nadiem Makarim.
Nadiem Makarim adalah pencetus ojek online di Indonesia yang dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat Indonesia. Nadiem berhasil memanfaatkan IPTEK dengan sempurna untuk menafkahi banyak orang di Indonesia. Lalu, di sektor lain ada E-Commerce yang sekali lagi memanfaatkan IPTEK sebagai sarana seseorang dalam meningkatkan kesejahteraan dengan cara menjual sesuatu melalui Internet. Ya, IPTEK telah membuka banyak lapangan pekerjaan di Masyarakat Indonesia. Dengan adanya IPTEK, seseorang tidak ragu lagi untuk merubah taraf hidupnya, para pelamar pekerjaan dapat mencari kerja melalui Internet, seseorang juga tidak perlu memiliki pendidikan tinggi, namun mereka memiliki keahlian lebih sehingga masyarakat dapat bekerja secara part time atau sebagai freelancer di Internet yang tentunya dengan penghasilan yang cukup besar.
Nadiem Makarim adalah pencetus ojek online di Indonesia yang dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat Indonesia. Nadiem berhasil memanfaatkan IPTEK dengan sempurna untuk menafkahi banyak orang di Indonesia. Lalu, di sektor lain ada E-Commerce yang sekali lagi memanfaatkan IPTEK sebagai sarana seseorang dalam meningkatkan kesejahteraan dengan cara menjual sesuatu melalui Internet. Ya, IPTEK telah membuka banyak lapangan pekerjaan di Masyarakat Indonesia. Dengan adanya IPTEK, seseorang tidak ragu lagi untuk merubah taraf hidupnya, para pelamar pekerjaan dapat mencari kerja melalui Internet, seseorang juga tidak perlu memiliki pendidikan tinggi, namun mereka memiliki keahlian lebih sehingga masyarakat dapat bekerja secara part time atau sebagai freelancer di Internet yang tentunya dengan penghasilan yang cukup besar.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kita hidup dilingkungan yang memiliki perkembangan IPTEK yang maju dan pesat tetapi di satu sisi kita juga melihat kemiskinan yang begitu kontras berjalan beriringan dengan kecanggihan teknologi yang ada. Perubahan sepatutnya terus dilakukan, sehingga angka kemiskinan di seluruh dunia dapat ditekan seminimal mungkin. Kita pun sebagai masyarakat juga tidak dapat berdiam diri dan melihat kecanggihan IPTEK berjalan berdampingan dengan Kemiskinan yang semakin lama semakin buruk, kita pun juga harus ikut andil dalam pergerakan perubahan yang ada atau kita dapat menjadi seperti apa yang dilakukan Nadiem Makarim dengan memanfaatkan IPTEK untuk membuka banyak sekali lapangan pekerjaan.
Refrensi:
www.pengertianku.net/2015/01/pengertian-iptek-atau-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi-lengkap.html
http://aika-hiromi.blogspot.co.id/2013/01/apa-itu-iptek.html
http://dilihatya.com/2522/pengertian-iptek-menurut-para-ahli
https://oceannaz.wordpress.com/2010/07/29/kemiskinan-pengertian-dimensi-indikator-dan-karakteristiknya/
http://www.dosenpendidikan.com/20-dampak-positif-dan-negatif-teknologi-informasi-di-bidang-ekonomi/
http://labanapost.com/2015/07/website/investor-go-jek-dan-sejarah-para-pendirinya/
http://www.apapengertianahli.com/2015/07/pengertian-kemiskinan-apa-itu-miskin.html
http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2009/12/091125_poverty1.shtml
http://www.landasanteori.com/2015/08/pengertian-kemiskinan-jenis-faktor.html

