15 April 2016

Posted by Virtech Indonesia | File under : ,

Potensi Bangsa Indonesia


Orang-orang seluruh dunia tidak akan benar-benar paham siapa sesungguhnya bangsa Indonesia itu. Mereka akan kaget setengah mati bahwa ternyata bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak bisa dikalahkan. Bangsa kita adalah bangsa yang berada pada garda terdepan (avant garde nation) yang derap sejarahnya selalu saja berada beberapa langkah di depan bangsa-bangsa lain yang ada di muka bumi.

Letak geografis Indonesia sangat strategis sehingga mempunyai SDA (sumber daya alam) yang sangat melimpah mulai dari hasil laut, pertanian, pertambangan, dan lain-lain. Bahkan seandainya hanya menamcapkan tongkat di tanah Indonesia, tongkat itu dapat tumbuh menjadi sebuah pohon. 

Negeri ini pun memiliki potensi luar biasa dalam menyerap berbagai budaya yang ada di dunia. Kita bisa melihat segala macam model pakaian dan budaya di dunia ada di Indonesia, bangsa Barat pun tidak akan mampu menyerap budaya Indonesia misalnya dengan menggunakan kebaya di jalan-jalan. Namun di indonesia, pakaian dari negeri manapun dipakai disini. Musik apapun ada disini. Orang Barat hanya bisa menyanyikan lagu-lagu Barat, orang Negro juga hanya bisa menyanyikan lagu-lagu Negro, orang Cina hanya bisa menyanyikan lagu-lagu Cina. Orang Arab tidak akan bisa membawakan lagu Negro dan begitu sebaliknya. Tetapi, orang Indonesia mampu melantunkan lagu-lagu Arab, Negro, Barat, Cina, Blues, Rock.

Kita bisa melihat pula ratusan rongsokan motor, sampah elektronik, dan komputer  yang diserahkan kepada orang Indonesia akan kembali berfungsi dan menjadi sesuatu yang baru, dalam waktu tidak kurang dari satu minggu. Dari sudut kewibawaan, bangsa mana di seluruh dunia yang mampu memiliki wibawa sebagaimana wibawa yang dimiliki bangsa indonesia? Meskipun itu seorang  profesor di London atau di manapun, mereka  hanya memiliki kepintaran namun tidak mempunyai wibawa. Mereka hanya Pandai secara akademis, namun tidak berani.

Tidak hanya Rakyat Sipil yang memiliki konsep tawakal dan berserah diri. Angkatan Perang kitapun juga memiliki konsep yang tidak jauh hebat. Mereka memiliki konsep rendah hati dan tawakal yang begitu membumi. Bisa dibayangkan untuk melindungi negara yang wilayahnya terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dengan Luas daratan  1.922.570 km² dan perairannya 3.257.483 km, Angkatan Perang kita hanyalah mendapatkan anggaran 3% dari total APBN. Ini haruslah dimengerti, mengapa bangsa ini memiliki jumlah unit alutsista yang sedikit dibandingkan wilayah yang harus dilindungi  karena bangsa Indonesa tidak akan pernah memilih suatu sikap sosial yang gemedhe ataupun adigang adigung adiguna. Kita tak akan pernah mau pamer keunggulan atau gagah-gagahan kepada bangsa lain, dan disitulah letak keunggulan budaya kita. Kita tidak akan mencari kepuasan hidup dengan melalui sikap ngendas-ngendasi bangsa lain, seperti yang Amerika Serikat dan Sekutunya lakukan kepada negara-negara di Timur tengah.

Semua sifat dan potensi bangsa Indonesia sangatlah positif dalam menyongsong masa depan negeri ini. Potensi bangsa Indonesia sangatlah besar untuk bisa tampil dalam panggung kepemimpinan dunia, asal saja kita mau dan serius dan mau mencari formulasi yang tepat. Serius dalam berilmu bisa juga berarti menyadari bahwa hanya bangsa yang besar yang mampu menerima ujian beruntun dan mampu merubah berbagai kejadian yang terjadi untuk menjadi kekuatan dalam rangka bersiap menyambut takdirnya sebagai bangsa pemimpin jagad raya


Keunggulan Bangsa Indonesia


Menurut Pembukaan UUD 1945 Indonesia memiliki berbagai keunggulan yang menjadikan bangsa ini berbeda dan unggul dari negara lainnya. Salah satu keunggulan dari warga bangsa ini adalah, masyarakat Indonesia terkenal dengan gotong royong dan musyawarah. Konsep dari gotong royong bukanlah sekedar pada setiap bulan masyarakat yang berkumpul di suatu komunitas, seperti pedesaan melakukan kerja bakti dan menghiasi perkampungannya ketika akan datang hari kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, konsep gotong royong adalah satu solusi arif untuk memecahkan masalah kebangsaan yang mendera negara ini. Akan tetapi semangat gotong royong dan musyawarah dari tahun ke tahun seperti memudar beriringan dengan kemajuan zaman dan terlibatnya negara ini pada persaingan dunia dalam kerangka globalisasi. 

Negara ini telah banyak didera oleh permasalahan kompleks yang menjadikan bangsa ini terpuruk. Ketika kemiskinan melahirkan anarkisme dan terorisme maka sebenarnya ada yang salah dengan konsep kebangsaan kita sekarang ini. Seharusnya para elit pemerintahan dan orang-orang yang memiliki wewenang di negara seharusnya memiliki kepedulian akan masalah-masalah yang ada di negara ini. Pemerintah dengan masyarakat harus bekerjasama untuk mengembalikan jati diri bangsa ini yang didera krisis dengan cara menumbuhkan kembali rasa gotong royong di antara jiwa warga negara ini. Ketika para elit pemerintahan memiliki kekompakan dan bekerjasama dalam mengatasi masalah kebangsaan, itulah yang dinamakan gotong royong.

Bila hal itu dapat dilakukan maka masyarakat dapat melakukan gotong royong dan musyawarah untuk menjadi masyarakat yang demokratis dan luhur, yang memiliki cita-cita tinggi dan prestasi yang dapat dibanggakan di dunia. Maka untuk menumbuhkan dan menggalakkan kembali rasa gotong royong dan musyawarah dalam diri bangsa ini, pemerintah harus memulainya dengan menjalankan program-program yang dapat menumbuhkannya kembali. Hal ini harus dimulai dari tingkatan daerah terlebih dahulu, karena rasa ingin gotong royong akan lebih mudah muncul ketika pemerintah memperhatikan masalah daerahnya terlebih dahulu. Ketika bangsa ini dapat bersatu dalam konsep gotong royong dan musyawarah yang merupakan bagian dari keunggulan bangsa ini, maka bukan tidak mungkin bangsa ini dapat terbebas dari permasalahan kompleks yang telah mendera bangsa ini sekian lamanya.

Prestasi Bangsa Indonesia


Disini saya akan membahas 10 prestasi bangsa Indonesia di tahun 2015. Sebenarnya banyak sekali prestasi yang ditorehkan oleh Indonesia, namun saya memilih 10 prestasi berikut:

1. Film Animasi Battle of Surabaya
Film ini melibatkan lebih dari 180 animator Indonesia dan didanai oleh Disney. FIlm ini merupakan hasil kerjasama antara mahasiswa STMIK AMIKOM Yogyakarta dengan MSV Pictures. Miris sebenarnya jika melihat rekam jejak film ini yang ditolak di semua stasiun televisi Indonesia yang pada akhirnya film ini hingga didanai oleh Disney.

2. Juara 1 Lomba Robotik Internasional
Salman Trisnadi Wajrasena yang duduk di kelas 1 SD Prestasi Global, Depok ini berhasil membuat bangga Indonesia dengan menjuarai lomba Robotik di Korea Selatan yang diselenggarakan pada 5-9 Agustus 2015

3. 11 Medali Olimpiade Karate Internasional
The 29th Coupe Intrnational De Kayle di Luxemburg merupakan sebuah kejuaraan olimpiade karate internasional dan berhasil memboyong 11 Medali. Adapun medali tersebut berupa 4 Emas, 2 Perak, dan 5 Perunggu.

4. Prestasi Paduan Suara Indonesia tingkat Internasional
The Resonanz Children Choir yang diikuti anak berusia 9 tahun keatas dengan 48 anggota dengan menang di ajang The Golden Gate Internasional  dengan nominasi Lagu Daerah, historis, gospel, dan kontemporer dan berhasil memboyong juara 1 di kategori Lagu Daerah dan historis

5. Ajang IJSO 2015
IJSO 2015 yang berada di Daegue korea selatan berhasil memboyong 2 emas, 8 perak, 2 perunggu.

6. Kejuaraan catur internasional
Tiga medali emas diraih tim pelajar SMP yang turut dalam event kejuaraan catur yang digelar di Penang, Malaysia pada 7-12 Desember 2015. Tiga medali emas tersebut masing-masing disabet Muhammad Khairul Umam sebagai juara 1 kategori Champion, Syiffa Akiyya Sari kategori the Best 14 tahun dan Evi Yuli Ana kategori the Best Lady‎.

7. Olimpiade astronomi dan astrofisika Internasional
Joandy Leonata Pratama, siswa SMA Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara berhasil menjadi pemenang dalam Olimpiade Internasional Astronomi dan Astrofisika atau International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2015. Dari seluruh peraih medali emas, ia berada di peringkat pertama dengan nilai tertinggi. 

8. Medali emas ajang IFAC di Jepang ke 16
Ilham Faizal Rahman berhasil meraih medali emas untuk karya desain poster yang diberi judul 'It's Beautiful' dalam ajang International Foundation  for Arts and Culture (IFAC) pada Juni 2015 lalu.

9. 4 Medali olimpiade internasional biologi
Tim Olimpiade Biologi Indonesia yang terdiri dari empat siswa SMA menyabet satu medali emas, dua medali perak dan satu medali perunggu dalam ajang kompetisi International Biology Olympiad (IBO) ke-26 yang berlangsung di Aarhus, Denmark. Empat siswa itu adalah Maria Patricia Inggriani, Valdi Ven Japranata, Hana Fauzyyah Hanifin, dan Nagita Gianty Annisa.

10. Juara 3 Miss World kagak nemu
Maria Harfanti, Miss Indonesia yang berasal dari Yogyakarta berhasil menjadi jura tiga di ajang Miss World 2015 yang diselenggarakan di Sanya, China. 


Disusun oleh:
Fredika Budi Romadhona
1IA08
52415778
Posted by Virtech Indonesia | File under : ,

1. Apakah Perbandingan Budaya itu?

Budaya adalah kristalisasi nilai dan pola hidup yang dianut suatu komunitas. Budaya tiap komunitas tumbuh dan berkembang secara unik. Perbandingan budaya Jepang dan Indonesia berarti mencari nilai-nilai kesamaan dan perbedaan antara bangsa Indonesia dan bangsa Jepang.

Kesulitan utama dalam membuat perbandingan budaya antara Indonesia dan Jepang disebabkan perbedaan karakteristik kedua bangsa tersebut. Bangsa Jepang relatif homogen, dan hanya memiliki sekitar 15 bahasa (tidak berarti 15 suku bangsa, karena termasuk didalamnya sign language untuk tuna rungu), dan telah memiliki sejarah yang jauh lebih panjang, sehingga nilai-nilai budaya itu lebih mengkristal. Adapun bangsa Indonesia berciri heterogen, multi etnik, memiliki lebih dari 700 bahasa, sehingga tidak mudah untuk mencari serpih-serpih budaya yang mewakili Indonesia secara nasional. Perlu dipisahkan nilai-nilai mana yang diterima secara nasional di Indonesia, dan mana yang merupakan karakter unik salah satu suku yang ada.

2. Tradisi Pemilihan Nama dan Tanda Tangan

2.1 Tradisi Penamaan di Jepang

Nama di Jepang terdiri dari dua bagian: family name dan first name. Nama ini harus dicatatkan di kantor pemerintahan (kuyakusho), selambat-lambatnya 14 hari setelah seorang bayi dilahirkan. Semua orang di Jepang kecuali keluarga kaisar, memiliki nama keluarga. Tradisi pemakaian nama keluarga ini berlaku sejak jaman restorasi Meiji, sedangkan di era sebelumnya umumnya masyarakat biasa tidak memiliki nama keluarga. Sejak restorasi meiji, nama keluarga menjadi keharusan di Jepang. Jika seorang wanita menikah, maka dia akan berganti nama keluarga, mengikuti nama suaminya. Namun demikian, banyak juga wanita karir yang tetap mempertahankan nama keluarganya. Dari survey yang dilakukan pemerintah tahun 1997, sekitar 33% dari responden menginginkan agar walaupun menikah, mereka diizinkan untuk tidak berganti nama keluarga. Hal ini terjadi karena pengaruh struktur masyarakat yang bergeser dari konsep “ie”(家) dalam tradisi keluarga Jepang.


2.2 Tradisi Penamaan di Indonesia

Adapun masyarakat di Indonesia tidak semua suku memiliki tradisi nama keluarga. Masyarakat Jawa misalnya, tidak memiliki nama keluarga. Tetapi suku di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi memiliki nama keluarga. Dari nama seseorang, kita dapat memperkirakan dari suku mana dia berasal, agama apa yang dianut dsb. Berikut karakteristik nama tiap suku di Indonesia


  • Suku Jawa (sekitar 45% dari seluruh populasi) : biasanya diawali dengan Su (untuk laki-laki) atau Sri (untuk perempuan), dan memakai vokal “o”. Contoh : Sukarno, Suharto, Susilo, Joko, Anto, Sri Miranti, Sri Ningsih.
  • Suku Sunda(sekitar 14% dari seluruh populasi) : banyak yang memiliki perulangan suku kata. Misalnya Dadang, Titin, Iis, Cecep
  • Suku Batak : beberapa contoh nama marga antara lain Harahap, Nasution.
  • Suku Minahasa : beberapa contoh nama marga antara lain Pinontoan, Ratulangi.
  • Suku Bali : Ketut, Made, Putu, Wayan dsb. Nama ini menunjukkan urutan, bukan merupakan nama keluarga.


Selain nama yang berasal dari tradisi suku, banyak nama yang diambil dari pengaruh agama. Misalnya umat Islam : Abdurrahman Wahid, Abdullah, dsb. Sedangkan umat Katolik biasanya memakai nama baptis : Fransiskus, Bonivasius, Agustinus, dsb.

2.3 Perbandingan Kedua Tradisi

Persamaan antara kedua tradisi
Baik di Jepang maupun di Indonesia dalam memilih nama (first name) sering memilih kata yang mensimbolkan makna baik, sebagai doa agar si anak kelak baik jalan hidupnya. Khusus di Jepang, banyaknya stroke kanji yang dipakai juga merupakan salah satu pertimbangan tertentu dalam memilih huruf untuk anak. 

Perbedaan antara kedua tradisi sbb.

  • Di Jepang, nama keluarga dimasukkan dalam catatan sipil secara resmi, tetapi di Indonesia nama keluarga ini tidak dicatatkan secara resmi di kantor pemerintahan. Nama family/marga tidak diperkenankan untuk dicantumkan di akta kelahiran
  • Di Jepang setelah menikah seorang wanita akan berganti nama secara resmi mengikuti nama keluarga suaminya. Sedangkan di Indonesia saat menikah, seorang wanita tidak berganti nama keluarga. Tapi ada juga yang nama keluarga suami dimasukkan di tengah, antara first name dan nama keluarga wanita, sebagaimana di suku Minahasa. Di Indonesia umumnya setelah menikah nama suami dilekatkan di belakang nama istri. Tetapi penambahan ini tidak melewati proses legalisasi/pencatatan resmi di kantor pemerintahan.
  • Huruf Kanji yang bisa dipakai untuk menyusun nama anak di Jepang dibatasi oleh pemerintah (sekitar 2232 huruf, yang disebut jinmeiyo kanji), sedangkan di Indonesia tidak ada pembatasan resmi untuk memilih kata yang dipakai sebagai nama anak


3. Pemakaian gesture/gerak tubuh untuk memberikan penghormatan dan kasih sayang

Jepang dan Indonesia memiliki cara berlainan dalam mengekspresikan terima kasih, permintaan maaf, dsb.

Ojigi
Dalam budaya Jepang ojigi adalah cara menghormat dengan membungkukkan badan, misalnya saat mengucapkan terima kasih, permintaan maaf, memberikan ijazah saat wisuda, dsb. Ada dua jenis ojigi : ritsurei (立礼) dan zarei (座礼). Ritsurei adalah ojigi yang dilakukan sambil berdiri. Saat melakukan ojigi, untuk pria biasanya sambil menekan pantat untuk menjaga keseimbangan, sedangkan wanita biasanya menaruh kedua tangan di depan badan. Sedangkan zarei adalah ojigi yang dilakukan sambil duduk. Berdasarkan intensitasnya, ojigi dibagi menjadi 3 : saikeirei (最敬礼), keirei (敬礼), eshaku (会釈). Semakin lama dan semakin dalam badan dibungkukkan menunjukkan intensitas perasaan yang ingin disampaikan. Saikeirei adalah level yang paling tinggi, badan dibungkukkan sekitar 45 derajat atau lebih. Keirei sekitar 30-45 derajat, sedangkan eshaku sekitar 15-30 derajat. Saikeirei sangat jarang dilakukan dalam keseharian, karena dipakai saat mengungkapkan rasa maaf yang sangat mendalam atau untuk melakukan sembahyang.

Jabat tangan
Tradisi jabat tangan dilakukan baik di Indonesia maupun di Jepang melambangkan keramahtamahan dan kehangatan. Tetapi di Indonesia kadang jabat tangan ini dilakukan dengan merangkapkan kedua tangan. Jika dilakukan oleh dua orang yang berlainan jenis kelamin, ada kalanya tangan mereka tidak bersentuhan. Letak tangan setelah jabat tangan dilakukan, pun berbeda-beda. Ada sebagian orang yang kemudian meletakkan tangan di dada, ada juga yang diletakkan di dahi.

Cium tangan
Tradisi cium tangan lazim dilakukan sebagai bentuk penghormatan dari seorang anak kepada orang tua, dari seorang awam kepada tokoh masyarakat/agama, dari seorang murid ke gurunya. Ada dugaan berasal dari pengaruh budaya Arab. Di Eropa lama, dikenal tradisi cium tangan juga, tetapi sebagai penghormatan seorang pria terhadap seorang wanita yang bermartabat sama atau lebih tinggi.

Cium pipi
Cium pipi biasa dilakukan di Indonesia saat dua orang sahabat atau saudara bertemu, atau sebagai ungkapan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya dan sebaliknya. Tradisi ini tidak ditemukan di Jepang.

Sungkem
Tradisi sungkem lazim di kalangan masyarakat Jawa, tapi mungkin tidak lazim di suku lain. Sungkem dilakukan sebagai tanda bakti seorang anak kepada orang tuanya, seorang murid kepada gurunya. Sungkem biasa dilakukan jika seorang anak akan melangsungkan pernikahan, atau saat hari raya Idul Fitri (bagi muslim), sebagai ungkapan permohonan maaf kepada orang tua, dan meminta doa restunya.

Baik budaya Jepang maupun Indonesia memiliki keunikan tersendiri dalam mengekspresikan rasa hormat, rasa maaf. Jabat tangan adalah satu-satunya tradisi yang berlaku baik di Jepang maupun Indonesia. Kesalahan yang sering terjadi jika seorang Indonesia baru mengenal budaya Jepang adalah saat melakukan ojigi, wajah tidak ikut ditundukkan melainkan memandang lawan bicara.

4. Kesimpulan

Perbandingan budaya antara Indonesia dan Jepang bermanfaat untuk mengetahui pola berfikir bangsa Indonesia dan bangsa Jepang. Salah satu kesulitan utamanya adalah perbedaan karakteristik kedua bangsa: bangsa Jepang relatif homogen, sedangkan bangsa Indonesia sangat heterogen. Karenanya, perbandingan akan lebih mudah jika difokuskan pada satu suku bangsa di Indonesia. Misalnya budaya Jepang dengan budaya Jawa Tengah, atau budaya Jepang dengan budaya Sunda.



Refrensi
2. Osamu Ikeno, The Japanese Mind: Understanding Contemporary Culture, Tuttle Pub., 2002


Disusun oleh:
Fredika Budi Romadhona
1IA08

52415778
Posted by Virtech Indonesia | File under : ,

Kebudayaan Mentalitas dan Kebudayaan

Apakah Gotong Royong itu Sebenarnya?

Apakah gotong-royong itu?

Konsep gotong-royong merupakan suatu konsep yang erat sangkut-pautnya dengan kehidupan rakyat indonesia. Istilah gotong-royong pertama kali tampak dalam bentuk tulisan dalam karangan-karangan tentang hukum adat dan juga dalam karangan-karangan tentang aspek-aspek sosial dari pertanian (terutama di Jawa Timur) oleh para ahli pertanian belanda lulusan Wageningen.

Gotong-royong Dalam Bercocok Tanam


     Dalam kehidupan masyarakat di Jawa, gotong-royong merupakan suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa sibuk dalam lingkaran aktivitas produksi bercocok tanam di sawah.
     Untuk keperluan itu, dengan adat sopan-santun yang sudah tetap, seorang petani meminta beberapa orang lain desanya, misal dalam mempersiapkan sawah untuk masa penanaman yang baru (memperbaiki saluran air dan sebagainya). Kompensasi lain tidak ada, tetapi yang minta bantuan itu harus mengembalikan jasa itu dengan membantu semua petani yang diundangnya tadi, tiap saat apabila mereka memerlukan bantuannya.        Sistem gotong-royong sebagai suatu sistem pengerahan tenaga seperti itu, amat cocok dan flexibel untuk teknik bercocok tanam yang bersifat usaha kecil dan terbatas, terutama waktu unsur uang belum masuk ekonomi pedesaan.
     Dengan masuknya uang menjadi unsur penting dalam kehidupan ekonomi pedesaan, yang di beberapa daerah di Jawa sudah mulai dalam abad ke-19 yang lalu, seorang ahli pertanian Belanda yang pernah bekerja di daerah Blitar Jawa Timur bernama G.H van der Kolff menulis dalam tahun 1920, bahwa di daerah pedesaan di Blitar itu banyak petani mulai meninggalkan adat gotong-royong dalam produksi pertanian, dan menganggap lebih praktis untuk menyewa saja buruh tani yang diberi upah berupa uang.

     Aktivitas gotong-royong di beberapa desa di Jawa Tengah bagian Selatan dalam tahun 1958 dan 1959. Desa-desa daerah itu, gotong-royong disebut sambatan. Istilah sambatan itu berasal dari kata sambat yang artinya “minta bantuan”. Daerah Karanganyar-Kebumen, isitilah gotong-royong baru saja dikenal oleh para petani disana ketika 3-4 tahun sebelumnya istilah itu diintroduksi di daerah itu selama kampanye pemilu berlangsung.

Aktivitas Tolong-menolong lain dari desa


  1. > Aktivitas tolong-menolong antara tetangga yang tinggal berdekatan, untuk pekerjaan kecil di sekitar rumah dan pekarangan. Misalnya: menggali sumur, mengganti dinding rumah dan sebagainya. Di daerah Karanganyar disebut dengan istilah guyuban.
  2. > Aktivitas tolong-menolong antara kaum kerabat utuk menyelenggarakan pesta sunat, perkawinan atau upacara-upacara adat sekitar titik peralihan pada lingkaran hidup individu. Adat tolong-menolong antara kaum kerabat seperti itu di daerah Karanganya disebut njurung.
  3. > Aktivitas spontan tanpa permintaan dan tanpa pamrih untuk membantu secara spontan pada waktu seorang penduduk desa mengalami kematian atau bencana. Adat untuk membantu ini di Karanganyar di sebut tetulung layat.

Ada suatu perbedaan dalam ketiga aktivitas tersebut, sambatan dilakukan dalam suasana yang tidak spontan, guyuban suasana spontan dan persaudaraan antara tetangga dekat sudah mulai tampak. Suasana spontan tanpa pamrih yang paling besar tampak dalam peristiwa telulung layat, pada waktu orang membantu orang lain pada peristiwa adanya kematian dan bencana.

Kerja Bakti

Dalam zaman penjajahan, sistem kerja bakti itu diperkejakan untuk mengerahkan tenaga bagi proyek-proyek pemerintah kolonial. Di daerah Karanganyar disebut kerigan, sedangkan di tempat-tempat lain di Jawa, ada sebutan-sebutan seperti gugur gunung, rodi, kompenian dan lain-lain.

Penutup


Konsep gotong-royong, tolong-menolong yang awalnya hanya berwujud sebagai suatu sistem pengerahan tenaga tambahan pada masa-masa dalam proses bercocok tanam, sebagai sistem tolong-menolong antara tetangga dan kerabat, berpesta, peristiwa-peristiwa kematian dan bencana dijadikan satu dengan kerja rodi merupakan sejarah dari tolong-menolong. Di mulai pada waktu Panitia Persiapan Kemerdekaan dalam masa Jepang, mengangkat konsep itu menjadi suatu unsur yang amat penting dalam rangkaian prinsip-prinsip dasar dari negara Indonesia.

Apakah Nilai gotong-royong itu untuk penghapusan desa

Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia nilai itu mengandung empat konsep:
  1. > Manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini tetapi dikelilingi oleh komunitasnya, masyarakat, dan alam sekitar.
  2. > Dalam segala aspek kehidupan manusia pada hakekatnya tergantung kepada sesamanya.
  3. > Manusia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama-rata sama-rasa
  4. > Selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dan bersama dengan sesamanya dalam komunitas terdorong oleh jiwa sama-tinggi sama-rendah.
“Apakah nilai gotong-royong itu menghambat pembangunan?”
Kalau apa yang dimaksud dengan gotong-royong adalah aktivitas tolong-menolong dan sistem tukar-menukar tenaga antar petani dalam produksi bercocok tanam, aktivitas tolong-menolong antar tetangga, atau antar kaum kerabat dalam masyarakat desa kecil, maka sudah tentu kalau gotong-royong tak ada banyak sangkut pautnya dengan pembangunan dan karena itu tidak menghambat pembangunan.

Apakah ada nilai tradisional yang bisa mendorong pembagian Mendorong Pembangunan?


Ada beberapa nilai tradisional yang memang tidak cocok dengan jiwa pembangunan. Misalnya, nilai yang terlampau banyak berorientasi vertikal ke arah tokoh pembesar, atasan dan senior. Nilai itu mematikan beberapa sifat mentalitas tertentu, seperti kemauan untuk berusaha atas kemampuan sendiri, rasa disiplin murni. Sifat-sifat mental yang tak berdasarkan atas sistem nilai budaya yang tradisional, tetapi yang timbul sebagai akibat kekacauan zaman revolusi dan port-revolusi ialah: hilangnya rasa kepekaan terhadap mutu dan timbulnya “mentalitas menerabas”. Sifat-sifat mental yang kita perlukan untuk memertinggi kapasitas membangun kita ialah: nilai yang berorientasi terhadap achievement dari karya, nilai yang mementingkan explorasi,sifat hemat dan bersaing.


Apakah Kebudayaan Indonesia


Rumus yang melambangkan aneka warna-warni bangsa kita, yaitu bhinneka tunggal ika, yang artinya bhinna = bentuk partisipasi dari akar kata Sansakerta bhid = pecah; ika = itu; tunggal = satu; jadi bhinneka tunggal ika itu “satu”. Masalah kebudayaan nasional meyangkut masalah kepribadian nasional dan masalah kepribadian nasional itu tidak hanya langsung mengenai identitas kita sebagai bangsa, tetapi juga menyangkut soal tujuan kita bersama untuk hidup sebagai bangsa, menyangkut soal tujuan kita bersama untuk dengan susah payah mengeluarkan tenaga banyak untuk membangun, dan menyangkut soal motivasi kita untuk membangun.

Pengembangan Kebudayaan Nasional Indonesia

  1. > Program kampanye dan penerangan besar-besaran agar rakyat Indonesia mulai menghargai barang-barang hasil produksi industri nasionalnya dan berhenti untuk lebih menyukai barang-barang Made in China, Made in Japan, atau Made in USA.
  2. > Usaha lebih serius untuk mengembangkan Hukum Nasional.

Sifat khas suatu kebudayaan bisa dimanifestasikan dalam beberapa unsur yang terbatas dalam suatu kebudayaan, yaitu dalam bahasanya, dalam keseniannya, dan dalam upacara-upacaranya. Yang perlu di perhatikan dalam mengembangkan Kebudayaan Nasional adalah agar suatu unsur Kebudayaan Nasional itu bisa memberi identitas kepada warga negaranya, maka ia harus bisa menimbulkan rasa bangga kepada mereka, dan sebaliknya.

Bidang-bidang Kesenian Manakah memberi Isi Kepada Kebudayaan Nasional?


Kebudayaan Nasional Indonesia itu, harus bisa memberi rasa kepribadian kepada bangsa Indonesia sebagai suatu keseluruhan dan sebagai suatu kesatuan nasional.

Unsur-unsur kebdayaan yang universal


  1. > Sistem teknologi
  2. > Sistem mata pencaharian hidup
  3. > Sistem kemasyarakatan
  4. > Bahasa
  5. > Sistem pengetahuan
  6. > Religi
  7. > Kesenian


Satu unsur kebudayaan yang dapat menonjolkan sifat khas dan mutu, dan dengan demikian amat cocok sebagai unsur paling utama dari Kebudayaan Nasional Indonesia yaitu kesenian. Maka masalah mengembangkan Kebudayaan Nasional Indonesia pada hakekatnya memang terbatas kepada masalah mengembangkan kesenian Nasional Indonesia.

Disusun oleh: 
Fredika Budi Romadhona
1IA08
52415778